Intoleransi Cederai Keistimewaan Yogyakarta

Yogyakarta – Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto menegaskan akan memanggil Kesbangpolimas DIY dan meminta instansi tersebut menertibkan ormas yang ada di Yogyakarta. “Kejadian ini cukup mengagetkan dan memprihatinkan, seharusnya tidak terjadi di daerah istimewa,” ujar Eko. Menurut dia, tindakan main hakim sendiri dan intoleransi bertentangan dengan Keistimewaan DIY. Pada Pasal 5 UU 13/2012 diamanatkan untuk menjaga memelihara dan menumbuhkembangkan Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka NKRI. Ia mendukung polisi dan pemerintah daerah menegakkan hukum dan hadir menjaga Bhinneka Tunggal Ika. “Kalau ada perbedaan pendapat, Yogya punya cara musyawarah,” ucap dia. Polda DIY melalui Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Frans Tjahyono, telah melakukan pengkajian tindakan yang diduga sebagai ancaman yang dilakukan oleh FUI. “Kami telah melakukan pengkajian untuk menentukan langkah aparat kepolisian, dan jika tindakan itu merembet hingga ada tindakan kekerasan, maka kami tidak segan untuk menindak,” katanya. Frans Tjahyono juga mengatakan bahwa Polda DIY sudah melakukan komunikasi ke kampus-kampus yang mendapat perlakuan dan ancaman dari ormas. “Kami sudah berkoordinasi, dan untuk UKDW perkaranya sudah selesai dengan penurunan baliho. Sedang kampus lain, tidak terjadi ancaman serupa,” terangnya. Sementara itu, koordinator Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah (AM FUI) DIY Muhammad Fuad mengakui kalau pihaknya memang meminta Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) untuk mencopot baliho yang yang menampilkan gambar mahasiswi berjilbab. Tetapi Fuad menolak dianggap melakukan ancaman terhadap lembaga pendidikan Kristen tersebut. “Kita tabayyun (mencari kejelasan) dengan berdiskusi dan berdialog, kami sampaikan argumen kami dan pihak kampus menerimanya,” ujar Fuad. Diketahui Forum Ukhuwah Islamiyah yang sebelumnya bernama Forum Umat Islam dan terdiri dari gabungan ormas Islam tersebut, mendatangi Kampus Kristen untuk memprotes munculnya mahasiswi berjilbab dalam media promosinya. Menurut Fuad, ormas Islam keberatan atas pemuatan baliho tersebut karena iklan itu bisa menimbulkan banyak penafsiran. Pihaknya kemudian mengakomodasi keberatan-kebaratan tersebut dan menyampaikannya kepada pihak UKDW dengan berdialog. “Sama sekali kami tidak berniat menodai toleransi di Yogya. Kami hanya menyampaikan keberatan kami dan keberatan kami sudah diterima oleh pihak kampus,” tegas Fuad. Fuska Sani Evani/PCN Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu