260 Peserta Ramaikan Pameran Industri Farmasi CPhI SEA 2017

Jakarta – Sebanyak 260 peserta akan turut serta dalam pameran Convention on Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPhI SEA) 2017 yang akan digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 22-24 Maret 2017. President Director PT UBM Pameran Niaga Indonesia, Christopher Eve, mengatakan, CPhI SEA 2017 merupakan pameran niaga untuk industri farmasi yang dapat menjadi wadah bagi para pelaku industri farmasi dan pemasok bahan baku obat, kemasan dan mesin-mesin, serta teknologi dari seluruh dunia untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. “Kami memahami bahwa riset dan inovasi berperan penting dalam kelangsungan industri farmasi Indonesia, terlebih dalam situasi saat ini. Karena itu, dengan dukungan penuh dari GP Farmasi Indonesia dan PMMC, CPhI SEA akan hadir dengan kategori pameran yang lebih lengkap,” ungkap Christopher, saat Media Briefing penyelenggaraan CPhI SEA 2017, di Jakarta, Rabu (14/12). CPhI SEA 2017, lanjut dia, akan menghadirkan lebih dari 260 peserta pameran dan mengestimasikan 5.500 pengunjung profesional industri farmasi. “Hal tersebut menjadikan pameran ini sebagai wadah komunikasi yang menyeluruh dan dinamis sesuai perkembangan industri,” tambahnya. Sementara itu, Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) dan Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, Kendrariadi Suhanda, mengatakan, pemain industri farmasi meyakini bahwa pertumbuhan industri farmasi di Indonesia selain bergantung pada kebutuhan obat generik juga perlu didorong melalui riset dan inovasi. “Melalui kegiatan seperti CPhI SEA 2017, diharapkan Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhan ini. selain itu, kalangan profesional industri farmasi juga dapat bertukar informasi dan pengalaman bagi kemajuan industri farmasi secara umum,” ujar Kendrariadi. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari pemerintah, lanjut dia, telah meningkatkan kemajuan industri farmasi melalui perluasan pasar untuk produk baru yang inovatif dan lebih baik guna memenuhi kebutuhan layanan kesehatan nasional. “Hal ini mendorong pertumbuhan industri farmasi sebagaimana kenaikan permintaan obat-obatan sehingga pasar farmasi nasional diprediksikan mencapai kisaran Rp 78 triliun pada 2017 atau tumbuh 5 persen hingga 6 persen dibanding tahun 2016,” tambahnya. Wakil Ketua Umum PMMC dan Ketua Litbang Perdagangan dan Industri Bahan Baku GP Farmasi Indonesia, Vincent Harijanto, menambahkan, bahan baku obat atau API (Active Pharmaceutical Ingredients) merupakan komponen penting yang turut menentukan kualitas obat. “Indonesia saat ini sedang dalam tahap awal untuk memulai produksi API di dalam negeri, dengan dukungan pemerintah melalui program akselerasi pertumbuhan industri farmasi nasional,” kata Vincent. Feriawan Hidayat/FER BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu