Jessica: Saat Mirna Meninggal, Mimpi Buruk Saya Dimulai

Jakarta- Terdakwa Jessica Kumala Wongso menegaskan tidak pernah menaruh racun di es kopi Vietnam yang diminum korban Wayan Mirna Salihin. Kendati terlihat tenang, namun Jessica mengaku ingin berteriak kalau dirinya tidak membunuh Mirna. “Di balik ekspresi saya yang tenang, sebenarnya ingin saya berteriak tidak bunuh Mirna. Saya berdoa agar Tuhan berikan jalan keluar,” ujar Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/10). Dikatakan Jessica, mimpi buruknya hadir ketika Mirna meninggal dunia. Apalagi setelah polisi menangkapnya di sebuah hotel di bilangan Jakarta Barat. “Saat Mirna meninggal, mimpi buruk saya dan keluarga dimulai. Kami berselisih dengan saudara, membuat tetangga terganggu, banyak orang terganggu, terpaksa tampil di media padahal saat itu kami hanya mencari kenyamanan dan ketenangan,” ungkapnya. Usai penangkapan, tambahnya, tekanan dari polisi kian terlihat. Namun itu tidak bisa membuat dirinya mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. “Pada malam berikutnya Dirkrimum (mantan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti) datang ke ruangan tahanan saya dan mengajak ke suatu ruangan. Dia mengatakan, kalau dia sudah merendahkan dirinya datang ke tahanan dan mempertaruhkan jabatannya dengan menjadikan saya tersangka. Dia minta saya akui karena sudah teliti CCTV. Kalau saya mengaku, dikurangi hukumannya. Saya tidak bisa mengerti, kenapa mereka berpikir saya menaruh racun di kopi,” jelasnya. Ia menyampaikan, tekanan semakin besar ketika rekonstruksi atau reka ulang digelar penyidik di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat. “Ada banyak polisi. Apa pun, tujuan mereka ini mengintimidasi saya. Saya pakai baju tahanan, saya dapat tanggapan sinis, terutama dari pegawai Kafe Olivier. Minggu sore, mal ramai, saya harus melewati pengunjung dan menghujat saya pembunuh berdarah dingin,” katanya. Menurutnya, kalau Tuhan tidak memberikan kekuatan, dirinya tidak berdaya menghadapi ujian ini. “Bagaimana pun stres saya,” ucapnya. Jessica melanjutkan, setelah empat bulan ditahan di Ruang Tahanan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, berkas perkaranya dinyatakan lengkap atau P21. “Saya dipindah ke (Rutan Wanita) Pondok Bambu. Saya harus siapkan diri menghadapi persidangan menyeramkan karena mengadili saya sebagai pembunuh. Padahal saya tidak melakukannya,” jelas dia. Ia mengungkapkan, pada persidangan semua pribadi yang tidak ada kaitannya dengan kasus dibuka. “Namun, saya tetap bersyukur karena ada orang di sekitar yang memberikan dukungan dan percaya saya tidak salah. Dengan dukungan ini membuat saya tegar,” tandasnya. Bayu Marhaenjati/WBP BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu