Sektor Makro Belum Mendukung Posisi Rupiah

RIMANEWS – Meskipun defisit neraca perdagangan mencapai 440 juta dolar, posisi kurs Rupiah tetap menguat selama sepekan ini. Ekonom Aviliani menjelaskan faktor penggerak rupiah berupa arus modal dalam jangka pendek. Pemasukan arus modal dalam jangka pendek ke pasar keuangan Indonesia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat melindungi penguatan rupiah. “Rupiah terdorong aliran hot money, atau modal dalam jangka pendek yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, ini bisa kita lihat dari pergerakan indeks yang terus menguat,” jelas Aviliani. Baca Juga Rupiah dan IHSG kompak melemah Jokowi: Redenominasi Rupiah Perlu Waktu 7 Tahun Dampak Kenaikan The Fed, IHSG dan Rupiah Terkoreksi Rupiah Melemah 47 Poin dari Penutupan Kemarin Pada 2012, kurs rupiah memang melemah karena investasi menurun setelah The Fed memutuskan tappering off. Saat itu, nilai kurs rupiah Rp. 12.000 per dollar. Aviliani menilai sektor makro belum mampu menentukan penguatan rupiah. Sehingga pemerintah harus melakukan beragam upaya menguatkan bisnis makro. Sebagai informasi, jumlah capital inflow selama Februari 2014 senilai Rp. 10 triliun. “Jadi yang mesti diperbaiki adalah fundamentalnya, jika memang mau memperkuat nilai tukar rupiah,” katanya. (chus) Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Ekonomi , RUPIAH , Defisit , neraca , Makro , Ekonomi , RUPIAH , Defisit , neraca , Makro , Ekonomi , RUPIAH , Defisit , neraca , Makro

Sumber: RimaNews